LenteraKepri.com, Batam – Rendahnya tingkat literasi remaja Indonesia yang masih berada di peringkat bawah dunia menjadi keprihatinan serius berbagai pihak. Menjawab tantangan tersebut, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Batam mengambil langkah nyata dengan turun langsung ke sekolah melalui Pelatihan Literasi dan Jurnalistik di sekolah menengah pertama, salah satunya di SMP Negeri 1 Batam.
Sekolah tertua di Pulau Penawar Rindu itu menjadi saksi upaya menyalakan kembali api literasi di kalangan pelajar. Kegiatan ini merupakan wujud komitmen PWI Batam dalam mendukung dunia pendidikan, khususnya menumbuhkan budaya membaca, berpikir kritis, dan menulis sejak usia dini.
Pelatihan yang digelar di laboratorium SMPN 1 Batam diikuti 36 siswa kelas VII dan VIII. Suasana belajar dikemas secara interaktif dengan formasi duduk melingkar, membuka ruang dialog antara peserta dan narasumber. Antusiasme siswa tampak dari perhatian penuh, keberanian bertanya, hingga keaktifan berbagi pengalaman membaca.
Para peserta tidak hanya diperkenalkan pada dasar-dasar jurnalistik, tetapi juga diajak memahami pentingnya literasi sebagai bekal utama menghadapi derasnya arus informasi di era digital, sekaligus membentengi diri dari hoaks dan misinformasi.
Makna Literasi di SMPN 1 Batam
Kepala SMP Negeri 1 Batam, Sri Rahayu, menyambut hangat kegiatan tersebut. Ia dikenal sebagai figur pemimpin yang menanamkan budaya literasi melalui keteladanan. Dominasi warna biru di lingkungan sekolah bukan sekadar pilihan estetika, melainkan memiliki makna personal.
“Biru adalah judul cerpen pertama saya,” ungkap Sri Rahayu, yang menegaskan bahwa membaca dan menulis telah menjadi napas dalam kepemimpinannya.
Di bawah arahannya, SMPN 1 Batam tumbuh sebagai ruang aman bagi siswa untuk mengembangkan nalar, karakter, dan kreativitas.
Budaya literasi di sekolah ini juga tercermin dari kebiasaan para siswanya. Cahya, siswi kelas VIII, mengaku gemar membaca novel Bumi karya Tere Liye.
Sementara Marsya dan Chico Jericho memilih buku sastra dan motivasi sebagai sumber inspirasi. Fakta ini membuktikan bahwa semangat literasi dapat tumbuh subur, bahkan di wilayah hinterland yang kerap dianggap tertinggal.
Insan Pers Ikut Tanggungjawab
Ketua PWI Kota Batam, M. A. Khafi Anshary, menegaskan bahwa persoalan literasi bukan semata tanggung jawab dunia pendidikan, tetapi juga insan pers.
“Sebagai profesi yang hidup dari kata, membaca, dan menulis, wartawan memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menyalakan dan merawat api literasi,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala SMPN 1 Batam beserta seluruh guru dan tenaga pendidik yang dinilainya telah menjadi pelita bagi generasi muda, meski kerap bekerja dalam sunyi tanpa sorotan.
Pelatihan Literasi dan Jurnalistik ini menjadi bagian dari semangat Hari Pers Nasional (HPN) 2026, menegaskan bahwa pers dan pendidikan harus berjalan beriringan dalam menjaga nalar publik serta menyiapkan generasi masa depan yang cerdas dan berkarakter.
Dari ruang kelas SMP Negeri 1 Batam, sebuah api kecil kini telah menyala. Api literasi yang diharapkan terus menjalar, menguatkan budaya membaca dan menulis, serta perlahan mengubah wajah pendidikan Indonesia di mata dunia.






