LenteraKepri.com, Brasil – Di sebuah lintasan panas di Brasil, suara mesin meraung seperti simfoni keberanian. Di tengah deru itu, lahirlah sebuah julukan yang tak biasa, “Boeing 954 Pratama Airlines.” Julukan ini diberikan oleh timnya, Honda Team Asia.
Bukan pesawat. Bukan maskapai sungguhan. Tapi sebuah metafora untuk satu nama: Veda Ega Pratama.
Semua bermula dari satu balapan. Start biasa, tanpa sorotan berlebihan. Namun lap demi lap, motor bernomor 54 itu mulai “lepas landas”. Ia menyalip satu per satu, halus tapi pasti—seperti pesawat yang meninggalkan landasan tanpa ragu.
Di tikungan tajam, ia tetap stabil. Di trek lurus, ia melesat seperti roket.
Para komentator mulai terpukau. Penonton berdiri. Dan di garasi, timnya hanya bisa tersenyum tak percaya.
“Dia bukan lagi sekadar pembalap… dia seperti pesawat tempur,” bisik seseorang.
Dan saat garis finis semakin dekat, Veda tidak mengendur. Ia justru semakin cepat. Seolah-olah, mesin di bawahnya bukan lagi motor Moto3, tapi sebuah Boeing yang siap menembus langit.
Podium ketiga pun diraih. Sejarah tercipta.
Dan sejak saat itu, dunia mengenalnya dengan cara yang berbeda.
Boeing 954 Pratama Airlines.
Sebuah julukan yang lahir dari keberanian, kecepatan, dan mimpi besar seorang anak muda dari Gunungkidul.
Di balik helmnya, tak ada rasa takut. Yang ada hanya satu tujuan: terbang lebih tinggi.
Kini, perjalanan belum selesai. Masih banyak “bandara” yang harus disinggahi, Amerika, Eropa, hingga mungkin puncak dunia.
Dan setiap kali lampu start menyala, satu hal yang pasti:
Boeing 954 akan kembali lepas landas.








