LenteraKepri.com, Batam – Di tengah terik siang Kota Madinah, langkah Wali Kota Batam Amsakar Achmad terasa lebih pelan dari biasanya. Bersama sang istri, ia menjalani hari-hari penuh ibadah di Tanah Suci, berdoa di Masjid Nabawi, menapaki jejak sejarah Islam, hingga menundukkan hati di tempat-tempat yang selama ini hanya ia dengar dari kisah para ulama.
Namun, ada satu perjalanan yang diam-diam meninggalkan jejak paling dalam di hatinya: kunjungan ke Masjid Quba.
Dalam catatan pribadinya bertajuk Catatan Pelepas Penat: Masjid Quba, Amsakar menuliskan pengalaman yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, sebuah pertemuan sederhana, tetapi terasa begitu menyentuh.
Hari itu, sekitar pukul 12.00 waktu Madinah, Amsakar bersama istrinya dan tour guide mereka, Ustadz Rifa’i, tiba di kawasan Masjid Quba. Dari area parkir, mereka melanjutkan perjalanan menggunakan buggy car menuju pelataran masjid yang dikenal sebagai masjid pertama yang dibangun Rasulullah SAW.
Masjid itu bukan sekadar bangunan tua penuh sejarah. Di sanalah, Rasulullah SAW membangun pondasi pertama kehidupan umat Islam setelah hijrah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Tempat yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai masjid yang “didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama.”
Bagi banyak jamaah, sholat di Masjid Quba adalah impian. Rasulullah SAW bahkan menyebut pahala sholat di sana setara dengan satu kali umrah.
Sesampainya di dalam masjid, Amsakar dan istrinya segera mengambil tempat untuk melaksanakan sholat tahiyatul masjid. Suasana tenang menyelimuti. Tak ada firasat apa pun bahwa beberapa menit kemudian, sebuah peristiwa kecil akan mengubah cara pandangnya tentang kerendahan hati.
Usai sholat, seorang pria bersorban putih tampak memperhatikan dari kejauhan. Dengan bahasa Arab yang lembut, ia berbicara kepada Ustadz Rifa’i dan meminta dipertemukan dengan Amsakar.
Pria itu ternyata adalah Syech Tayyib Muhammad, salah seorang imam Masjid Quba.
Amsakar sempat bingung. Apa gerangan yang membuat seorang imam masjid besar ingin berbicara dengannya?
Pertemuan itu berlangsung sederhana. Tidak ada protokoler, tidak ada formalitas. Hanya percakapan hangat di antara sesama muslim yang dipertemukan di rumah Allah.
Melalui bantuan Ustadz Rifa’i sebagai penerjemah, Syech Tayyib menyampaikan sesuatu yang membuat Amsakar terdiam.
“Saya bahagia melihat ketawadhukan Anda. Saya tahu Anda orang baik,” ujar sang imam.
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa begitu dalam.
Di tengah jabatan dan tanggung jawab besar yang ia emban, Amsakar mengaku tersentuh karena yang dilihat sang imam bukanlah status atau kedudukannya, melainkan sikap hati.
Namun rupanya, pertemuan itu belum selesai.
Dengan penuh kelembutan, Syech Tayyib meminta satu hal yang tak pernah diduga Amsakar: membacakan Surah Al Fatihah di hadapannya.
Sejenak ia tertegun.
Di tempat suci itu, di hadapan seorang imam Masjid Quba, ia mulai melafalkan ayat demi ayat. Suaranya pelan, penuh kehati-hatian.
Sang imam mendengarkan dengan saksama.
Sesekali, beliau membetulkan pelafalan pada beberapa bagian—Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn, Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm, hingga bacaan penutup waladdhaaallliiin.
Tak ada nada menghakimi. Yang ada justru kelembutan seorang guru yang ingin muridnya menjadi lebih baik.
“Sudah bagus, tapi perlu terus diperbaiki,” kata Syech Tayyib sambil memberi semangat.
Bagi Amsakar, koreksi itu bukan teguran, melainkan hadiah. Sebuah pengingat bahwa perjalanan menjadi pribadi yang lebih baik tak pernah selesai, bahkan di usia dan posisi apa pun.
Sebelum berpisah, sang imam menyampaikan rasa bangganya kepada masyarakat Indonesia. Ia juga meminta izin untuk mendoakan Amsakar dan keluarganya.
Di momen itulah, hati Amsakar terasa penuh.
Bukan karena bertemu tokoh besar. Bukan pula karena mendapat perlakuan istimewa. Tetapi karena di tempat yang begitu mulia, ia merasa dipeluk oleh nasihat, doa, dan ketulusan seorang imam yang bahkan baru dikenalnya beberapa menit.
Perjalanan spiritual di Madinah memang dipenuhi banyak tempat bersejarah—Masjid Nabawi, Raudhah, Jabal Uhud, Masjid Qiblatain, hingga kawasan Waqaf Utsman bin Affan. Namun bagi Amsakar, Masjid Quba menghadirkan sesuatu yang berbeda: pelajaran tentang rendah hati.
Di akhir catatannya, ia menyimpan satu harapan sederhana.
“Semoga dengan mata hati yang tajam, doa Syech Tayyib Muhammad tersebut memberikan kebaikan bagi saya dan keluarga, terutama bagi Batam tercinta,” tulisnya.
Kadang, perjalanan paling menyentuh bukan tentang seberapa jauh kaki melangkah. Tetapi tentang siapa yang Allah pertemukan di tengah perjalanan itu, untuk mengingatkan bahwa hati yang rendah selalu menemukan jalan pulang.









