LenteraKepri.com, Batam – Isu dugaan oknum tour guide merebut tamu travel agent memanas dan menjadi sorotan publik. Menyikapi hal tersebut, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Batam menggelar apel bersama sekaligus penandatanganan pakta integritas bersama ratusan pramuwisata, Rabu (7/1/2025).
Apel yang berlangsung di salah satu kafe di kawasan Mega Legenda 2, Batam Centre, ini diikuti lebih dari separuh anggota HPI Batam. Kegiatan tersebut menjadi momentum evaluasi internal di tengah persaingan ketat dunia pariwisata Batam.
Menariknya, penandatanganan pakta integritas ini digelar di tengah hangatnya isu oknum anggota HPI Batam yang dituding merebut tamu sebuah travel agent, yang sempat viral dan memicu polemik di kalangan pelaku pariwisata.
Ketua DPC HPI Kota Batam, Lazuardi Pare, menegaskan bahwa apel dan pakta integritas ini merupakan langkah berbenah diri serta komitmen menjaga profesionalisme pramuwisata.
“Tujuan apel dan penandatanganan pakta integritas ini untuk berbenah diri, apalagi persaingan makin ketat. Ini menjadi pengalaman terakhir. Jangan sampai lagi muncul berita anggota HPI merebut tamu agent tanpa konfirmasi,” tegas Lazuardi.
Ketua DPD Kepri, Saya Malu

Sikap tegas juga disampaikan Ketua DPD HPI Kepri, Segara Arif Laksamana Sinaga. Ia mengaku kecewa dan malu atas mencuatnya isu tersebut karena dinilai merusak nama baik asosiasi.
“Saya minta anggota HPI bekerja profesional. Jika diberi tugas oleh travel agent, lakukan dengan baik. Kalau ada keluhan tamu terhadap agent, jadilah penengah, bukan malah mengambil tamu agent tersebut,” ujarnya.
Segara menambahkan, persoalan internal seharusnya diselesaikan secara etis dan tidak mencoreng citra profesi pramuwisata.
“Saya malu dengan munculnya isu anggota HPI merebut tamu travel agent,” tegasnya.
Senada, Dewan Kehormatan HPI Kepri, Fri Dahmi Surbakti, yang juga mantan Ketua DPC HPI Batam, menilai bahwa secara tupoksi, pramuwisata wajib menjalankan itinerary yang telah ditetapkan travel agent hingga tuntas, tanpa memengaruhi tamu.
“Harusnya ada saling menghargai antara ASITA dan HPI. Kalau ada masalah, dibicarakan, bukan diblow up ke media,” katanya.
Kasus Sudah Diselesaikan Secara Internal

Lazuardi Pare menegaskan bahwa kasus tersebut sejatinya telah selesai secara internal, namun kembali mencuat ke publik. Meski demikian, DPC HPI Batam mengambil langkah cepat dengan mencabut liaison atau kartu lisensi HPI sebagai tindakan awal.
Dari total 327 anggota HPI Batam, lebih dari separuh hadir dan menandatangani pakta integritas. Sekitar 95 anggota berhalangan hadir karena sedang bertugas membawa wisatawan.
Di tengah dinamika tersebut, Lazuardi juga menanggapi hadirnya asosiasi pramuwisata baru di Batam. Ia menyampaikan ucapan selamat dan mengajak semua pihak menjaga iklim pariwisata yang sehat.
“Selamat atas hadirnya asosiasi baru. Jangan sampai saling menjelekan karena ulah oknum. Mari bersama-sama membangun pariwisata Batam ke arah yang lebih baik,” pungkasnya.










