Organisasi, tentu tidak terima dengan perlakuan ini. Meski, Kavi sendiri sebenarnya enggan menempuh jalur hukum. “Bibir saya belum pecah,” begitulah ia menyampaikan untuk menenangkan. Namun suaranya kembali tertahan mengingat sosok sang legenda yang harusnya dihormati, dan rela kembali turun dari tahta memfasilitasi pertemuan agar semua kondusif, namun malah tak dipandang oleh segelintir orang. Akhirnya, laporan polisi dibuat.
Badai Mulai Mereda
Terkadang, perjuangan akan hal baik memang harus dihadapkan dengan badai menerjang. Sesuatu yang selama ini dibiarkan sudah dianggap menjadi hal lumrah, namun seyogyanya harus diluruskan.
“Harus ada yang memulai, dan saat ini PWI Batam melakukannya. Kami ingin meluruskan yang tak seharusnya dibiarkan bengkok. Apakah ini dosa pendahulu, ya. Kini kami ingin menebusnya,” tegas Kavi.
Ia meyakini, tak selamanya badai akan menerjang. Akan ada saatnya badai reda, digantikan pelangi menandakan kecerahan alam semesta muncul membawa keindahan. Terbukti, silaturahmi akhirnya terjalin. Para panitia forum berkunjug ke kantor PWI Batam.
Membawa buah tangan, dan buakan suapan, namun menandakan keakraban, PWI Batam dan panitia forum Solidaritas Wartawan Batam akhirnya sepakat. Menciptakan dunia jurnalistik yang profesional sesuai dengan standar Undang-undang Pers, dan kaidah Kode Etik Jurnalistik sangat penting. Premanisme berkedok wartawan juga harus diperangi.
“Kami tidak mewakili kelompok tertentu. Kami hanya ingin memperjelas posisi wartawan non-UKW (Uji Kompetensi Wartawan), yang selama ini juga bekerja secara profesional,” tutur Ali.
Niat baikpun disambut. Meski wartawan non-UKW telah bekerja secara profesional, Kavi ingin mengajak untuk keluar dari persepsi bahwa UKW tidaklah penting. Harus disepakati bahwa sertifikasi dan kompetensi wartawan bukanlah untuk memecah belah. Melainkan untuk mendorong profesionalisme dan melindungi wartawan dari jerat hukum yang mungkin timbul akibat produk jurnalistik.
”Kompetensi bagi wartawan sangat penting agar karya jurnalistik kita bisa dipertanggungjawabkan secara profesional. Sertifikasi bukan alat pembeda, tapi bentuk perlindungan terhadap profesi itu sendiri,” tegasnya.
Dalam era digital saat ini, tantangan terhadap kerja-kerja jurnalistik semakin besar. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas dan pemahaman kode etik menjadi hal mutlak yang harus dimiliki setiap wartawan. “Kami menghargai itikad baik dari panitia SWB. Semoga ini menjadi momentum untuk mempererat kembali tali persaudaraan antar wartawan di kota Batam, meski sempat ada perbedaan pandangan,” tuturnya.
Kalimat Penyejuk Hati dari Sang Legenda
Berangkat dari pengalaman, Marganas yang hadir di tengah silaturahmi, sedikit menceritakan pengalaman pahit di masa muda. Bagaimana dirinya tidak dianggap saat menjalankan profesi. Hanya karena belum tergabung dalam organisasi PWI, narasumber enggan dikonfirmasi. Namun halitu tidak menjadikannya berkecil hati. Justru dijadikan sebagai penguat diri untuk bisa diakui.
“Saya tidak mengeluh. Namanya wartawan ketika ditolak narasumber itu hal biasa. Jika kita punya data lengkap, naikkan saja beritanya. Namun jangan mencari-cari kesalahan sampai akhirnya pemerasan. Situasi itu tidak saya benci, namun terus berusaha agar bisa masuk dalam formasi. Dulu pengurusannya harus ke Riau panjang prosesnya, sampai akhirnya saya yang pertama diakui sebagai anggota PWI di Kepri,” kenangnya.








