LenteraKepri.com, Batam – Sangat menarik dan tersentuh membaca feature Denni Risman di LenteraKepri.com tentang Wak Abas, Raja Gasing Batam yang Bertarung Sendiri dengan Kesunyian.
Saya tidak tahu, apakah ada pejabat terkait meresponnya. Namun demikian, saya ingin memberikan catatan yang mungkin saja bisa memancing diskusi. Siapa tahu budayawan Kepri Rida Liamsi dan Abdul Kadir Ibrahim bisa menjadi perpanjangan tangan para seniman gasing seperti Wak Abas.
Ada satu kesalahan yang kerap dilakukan bangsa ini: kita terlalu sibuk meresmikan monumen, tetapi lalai merawat manusianya.
Di Kota Batam, berdiri monumen gasing. Ia besar, diam, dan bisu.
Namun tak jauh dari sana, seorang lelaki bernama Wak Abas justru memutar gasing dengan tubuhnya sendiri—tanpa panggung, tanpa anggaran, tanpa perhatian negara.
Di sinilah ironi budaya Kepulauan Riau bermula.
Wak Abas bukan seniman terkenal, bukan budayawan berjas, bukan tokoh yang akrab dengan podium. Ia hanya lelaki kampung: pencari pasir, nelayan, kuli. Tapi justru dari tangannya, satu tradisi penting Kepri bertahan agar tidak punah: gasing Belakang Padang.
Pertanyaannya sederhana, tetapi menggugat:
jika bukan Wak Abas, siapa lagi yang menjaga warisan ini hari ini?
Maestro yang Salah Alamat Pengakuan
Kita sering keliru memahami maestro.
Seolah maestro harus lahir dari panggung megah, festival nasional, atau sertifikat resmi.
Padahal dalam sejarah kebudayaan, maestro sejati sering justru lahir dari kesunyian—mereka yang bertahan ketika sorak-sorai sudah lama pergi.
Wak Abas memenuhi seluruh makna itu:
Ia menjaga pengetahuan tradisi ketika komunitasnya menyusut.
Ia mengorbankan harta pribadi demi keberlanjutan budaya. Ia menolak mengemis, memilih membangun arena budaya dari hasil keringat sendiri. Ia mendidik, meski tanpa murid tetap. Ia setia, bahkan ketika diejek dan dilupakan.
Apa lagi definisi maestro yang dibutuhkan?
Jika Kepri mampu memberi penghargaan kepada prestasi ekonomi dan birokrasi, mengapa begitu pelit memberi penghargaan kepada ketahanan budaya?
Penghargaan Maestro Bukan Seremonial, Tapi Sikap Negara
Penghargaan Maestro bukan sekadar piagam, plakat, atau acara tahunan. Ia adalah sikap moral pemerintah daerah terhadap warisan takbenda.
Memberi Penghargaan Maestro kepada Wak Abas berarti: Mengakui bahwa kebudayaan hidup melalui manusia, bukan proyek.
Menghentikan kebiasaan “menunggu punah baru didata”. Memberi teladan kepada generasi muda bahwa kesetiaan pada budaya bernilai dan dihargai. Menegaskan bahwa Kepri tidak hanya kaya secara geografis, tetapi juga berdaulat secara identitas.
Lebih dari itu, penghargaan ini adalah permintaan maaf simbolik negara kepada mereka yang selama ini bertarung sendirian menjaga tradisi.
Jangan Tunggu Maestro Itu Pergi
Sejarah Indonesia penuh dengan penyesalan:
kita baru mengangkat seseorang setelah ia wafat.
Padahal Wak Abas masih hidup. Masih membangun arena. Masih memintal tali gasing.
Masih ingin mengajar anak-anak.
Apakah kita akan kembali berkata: “Seandainya dulu…”? Jika Kepri ingin serius berbicara tentang pariwisata budaya, identitas Melayu, dan warisan pesisir, maka langkah paling jujur dan paling mendesak adalah satu: Hadirkan Penghargaan Maestro Kepri — dan mulai dari Wak Abas.
Karena bangsa yang besar bukan yang punya monumen budaya, melainkan yang tahu menghormati orang terakhir yang menjaga maknanya.
Oleh Yurnaldi, wartawan utama, kritikus sastra dan budaya, tinggal di Padang, Sumbar







