LenteraKepri.com, Batam – Kasus yang dialami IK, seorang perempuan di Batam hingga mendapatkan penghinaan dari seorang Bhayangkari bersama 6 ibu-ibu sosialita lainnya di dalam grup arisan hingga kini masih ditangani oleh pihak kepolisian di Mapolresta Barelang. Seperti pepatah, air susu dibalas dengan air tuba, itulah yang dirasakan IK.
Kepada LenteraKepri.com, IK pun mengaku bahwa penghinaan itu ialah fitnah yang didalangi seorang perempuan berinsial A. IK sendiri telah berkorban banyak untuk membantu A, namun balasan yang iadapat justru tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.
Surat Tanah Digadai ke Rentenir Demi Bantu Teman
IK menceritakan, awalnya hanya masalah pribadi antara dirinya dengan A, terkait pinjam meminjam. Saat itu, A butuh uang mendesak untuk pulang ke kampung halaman di Medan dan minta tolong kepada IK untuk meminjam uang. Didasari hubungan baik yang terjalin selama ini, akhirnya IK berbesar hati dan rela menggadaikan surat tanah (kavling) miliknya ke rentenir, sehingga dapat pinjaman Rp 15 juta.
Pada saat jatuh tempo untuk pembayaran, IK menagih A agar membayar pinjaman tersebut, namun A seakan tanpa beban mengatakan tidak punya uang. Sementara IK harus tetap melakukan pembayaran, karena jika tidak dibayar, bunganya akan semakin besar. Usaha untuk menagih terus dilakukan, tapi tetap tidak menemukan titik terang.
Baca: Satu Oknum Polisi di Batam Disorot! Diduga Biarkan Istri ‘Jual’ Status Polri Intimidasi Warga
“Saya bingung harus bagaimana. A saya tagih malah tidak mau bayar. Sementara saya harus tetap berhadapan dengan rentenir dan mendapat caci maki yang tidak enak didengar. Niat saya hanya ingin membantu teman, namun ternyata akhirnya saya yang mendapat masalah,” ujar IK, Jumat kemarin.
Sikap A yang tidak memiliki niat untuk membayar, membuat IK akhirnya pasrah dan memutuskan tidak menagih lagi. Ia mencari jalan sendiri agar masalah di rentenir bisa selesai secepatnya. Alhasil, IK dengan terpaksa menjual kavling miliknya untuk menyelesaikan utang di rentenir.
“Karena sudah sakit hati mendengar Ani tidak punya niat untuk membayar, akhirnya saya pasrah dan memutuskan tidak menagih lagi dan menyelesaikan hal ini dengan cara sendiri. Kavling itu saya jual agar bisa membayar utang ke rentenir. Setelah terjual, urusan ke rentenir akhirnya selesai. Sedangkan hubungan dengan A, tidak bisa saya perbaiki lagi,” aku IK, wajahnya tetap tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa yang ia pendam.
‘Cuci Tangan’ Tentang Grup Arisan Settingan
Ia mengaku, selama ini antara A dengan dengan dirinya sama-sama ikut di beberapa arisan. Bahkan, ada juga satu grup arisan bernama Tiara yang tengah berjalan merupakan settingan dari A sendiri. Dengan kejadian ini, IK memutuskan keluar dari grup tersebut. Apalagi, anggota grup mengetahui bahwa IK sudah menerima arisan pada urutan kedua, setelah urutan pertama diterima oleh A.
“Dalam grup arisan Tiara itu beranggotakan 22 orang dengan nominal Rp 500 ribu per kepala. Jadi masing-masing anggota akan mendapatkan uang Rp 11 juta. A sendiri yang mengatur agar yang mendapatkan arisan pertama kali hingga nomor urut keempat ialah dirinya sendiri dengan menggunakan nama orang lain. Seperti saya, mendapatkan nomor urut kedua, namun saya hanya ia (A-red) transfer Rp 5 juta. Sedangkan yang ketiga, ia setting atas nama Weli namun menggunakan nomor handphone saya. Kemudian yang keempat juga settingan atas nama Diana, ia juga tidak mendapatkan tidak utuh seperti saya. Barulah sebulan kemudian A melunasinya kepada Diana,” jelasnya.
Kondisi tersebut memicu berbagai pertanyaan dari para anggota grup, kenapa IK keluar dan apakah tidak mau mempertanggungjawabkannya. Bukan mengakui bahwa dirinya yang bersalah, A justru semakin menggila dan lempar batu sembunyi tangan. Ia menjawab di dalam grup, kejadian ini dialah yang akan bertanggungjawab, dengan memfitnah bahwa IK lah yang telah mensetting grup arisan tersebut.
“Namun saat dipertemukan dengan teman-teman yang ada di grup arisan Tiara, A tidak bisa membuktikan bahwa yang menerima arisan kedua dan ketiga itu adalah saya. Dia hanya bisa membukti ada transferan uang Rp 5 juta ke saya, dan uang itu sudah saya kembalikan,” terang IK.
Penyerangan di Grub Arisan Wacana
Karena tidak berhasil memprovokasi kawan-kawan di grup arisan Tiara, A lanjut mencari pendukung dengan mengumpulkan dan memprovokasi orang-orang yang tidak mengetahui awal permasalahan untuk menyerang IK di grup arisan yang berbeda. Diduga, LN yang merupakan istri oknum polisi juga termasuk di dalam orang yang dikumpulkan A. Hingga akhirnya muncul rekaman suara (voice note) di sejumlah grup WhatsApp arisan bernama Wacana (Wanita Cantik Mempesona) dan Just Mom.
“Isi voice note dari Ani itu, bangt kau IK, gara-gara utang piutang kau, aku dicerai laki aku, bangt, kampag, bangs*t. Dia tidak menjelaskan apa utang piutangnya. Sehari sebelum rekaman sara ini dikirim, mereka sudah kumpul-kumpul yang intinya saya dengar memang mau menyerang saya,” aku IK mengulangi rekaman suara yang dikirim Ani.
Baca: Istri Oknum Polisi di Batam Dilaporkan ke Bhayangkari, Diduga Intimidasi, Fitnah hingga Pamer Harta Mewah
Setelah muncul rekaman suara itu lanjut IK, mulailah satu per satu ikut menyerang dirinya di dalam grup tersebut. Berbagai makian dan ancaman dilontarkan di dalam grup itu. Diawali dengan makian dan ancaman dari LN yang akan mendatangi partai saya.
“Kebetulan saya juga kader salah satu partai, jadi dia yang mengancam akan mendatangi partai. Ada yang bilang saya lont*, menghina tubuh saya kurus karena makan uang haram, ada juga yang mengatakan akan mengatur strategi bagaimana membuang saya ke laut. bahkan ada yang sampai memfoto tempat usaha dan langsung datang ke tempat usaha saya,” terang IK.
Tempuh Jalur Hukum……






